Pengertian Daftar Cek Masalah (DCM)
Daftar Cek Masalah
merupakan seperangkat daftar pertanyaan kemungkinan masalah yang disusun untuk
merangsang atau memancing pengutaraan masalah, yang pernah atau sedang dialami
oleh seorang individu. Daftar cek masalah (DCM) dikembangkan oleh Ross L.
Mooney berisi 330 butir pernyataan masalah yang terbagi dalam 11 bidang
masalah, dimana setiap bidang masalah berisi 30 butir pernyataan masalah dan
ditambah satu bidang masalah lain-lain yang berisi 3 (tiga) butir pertanyaan
terbuka.
Bidang-bidang yang ada
pada DCM meliputi :
- Kesehatan pada
Perkembangan Fisik (Health and Physical Development) atau HPD.
- Keadaan Penghidupan
dan Keuangan (Finance, Living conditions and Employment) atau FLE
- Reaksi dan Hobi
(Social and Recreational Activies) atau SRA
- Kehidupan sosial dan
keaktifan berorganisasi (Social Psychological Relations) atau SPR
- Hubungan pribadi
(Personal Pyschological Relations) atau PPR
- Muda-mudi (Courtship,
Sex and Marriage) atau CSM
- Kehidupan Keluarga
(Home and Family) atau HF
- Agama dan Moral
(Morals and Religions) atau MR
- Penyesuaian terhadap
Sekolah (Adjusment to College Work) atau ACW
- Masa depan dan
Cita-cita pendidikan/jabatan (The Future Vocational and Educational) atau FVE
- Penyesuaian terhadap
Kurikulum (Curriculum and Teaching Procedures) atau CTP
Kelebihan dan Kekurangan
Kegunaan DCM dalam
proses asesmen dalam layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki kelebihan
dan kekurangan
- Pada proses
pelaksanaan bersifat efisien karena pelaksaan DCM dapat dilakukan secara
klasikal, sehingga guru pembimbing dalam waktu singkat dapat memperoleh data
yang banyak
- Pada akurasi data yang
diperoleh melalui DCM memiliki validaritas dan reliabitas tinggi mengingat
peserta didik yang mengisi dapat langsung melakukan pengecekan sendiri
kesesuaian masalah yang dirasakan atau dialami, selain itu karena penyediaan
butir permasalahan cukup banyak, maka memberi peluang data masalah yang
diungkapkan melalui DCM bersifat teliti, mendalam dan meluas.
- Dari segi fungsinya,
penggunaan DCM memudahkan peserta didik mengemukakan masalah, mengingat
penyediaan butir permasalahan yang memudahkan peserta didik untuk mengenali
permasalahan yang sedang atau pernah dialaminya.
- Sistemasi jenis masalah
yang dikelompokan dalam berbagai bidang mempermudah guru pembimbing untuk
melakukan analisis dan sintesa data serta merumuskan kesimpulan masalah yang
dialami peserta didik.
- Penggunaan DCM
memiliki banyak manfaat antara lain konselor lebih mengenal peserta didiknya
yang membutuhkan bantuan segera, konselor memiliki peta masalah individu maupun
kelompok, hasil DCM dapat digunakan sebagai landasan penetapan layanan
bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik
dan yang lebih penting lagi peserta didik dapat memahami masalah yang dialami
dan memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak.
- Membutuhkan waktu yang
banyak untuk pengolahan hasil, sebagai konsekuensi dari banyaknya jumlah bidang
masalah dan jumlah butir pernyataan masalah yang tersedia.
- Data yang diungkapkan
melalui DCM masih bersifat umum berbentuk peta masalah dan banyaknya masalah
yang dialami pada setiap bidang, sehingga untuk mendalami pemahaman terhadap
masalah peserta didik, guru pembimbing perlu mengkombinasi dengan metode
asesmen lain seperti wawancara.
Peran dan Fungsi Konselor
Pada proses asesmen
menggunakan DCM, konselor memiliki peranan dan fungsi sebagai:
- Perencana, yaitu mulai
dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapkan peserta didik sebagai
asesmen, menyediakan angket DCM dan lembar jawaban sesuai jumlah peserta didik
sasaran dan membuat satuan layanan asesmen DCM.
- Pelaksanaan, yaitu
memberikan verbal setting menjelaskan
tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data, memandu peserta didik dalam cara
mengerjakan sehingga dapat dipastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan
benar.
- Melakukan pengolahan
data mulai dari membuat tabulasi, menghitung,merangking dan mengklasifikasi
persentase, membuat grafik persentase, membuat deskripsi analisis kualitatif
hasil DCM.
- Melakukan tindak
lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan
konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Macam/Jenis Angket DCM
Daftar cek masalah
yang selama ini digunakan oleh konselor di sekolah-sekolah, hanya memiliki satu
macam/jenis saja, yaitu hasil adaptasi yang dikembangkan berdasarkan DCM yang
dibuat oleh Ross L. Money.
Langkah Penyusunan
Mengingat daftar cek
masalah sudah tersedia, maka konselor dalam konteks ini tidak melakukan
penyusunan sendiri, tetapi lebih memiliki posisi sebagai pengguna. Apabila
konselor berkeinginan mengembangkan sendiri tentu saja tetap terbuka peluang
untuk itu, bisa saja melakukan adaptasi ulang terhadap DCM yang ada dengan
mencobakannya pada polulasi atau sampel peserta didik yang berbeda tingkat
pendidikan dan berbeda wilayah administratif.
Langkah Pengadministrasian
Pada penggunaan
asesmen DCM, konselor perlu memahami prosedur pengadministrasian yang benar,
sehingga proses pelaksanaan berjalan baik danhasil data yang diperoleh memiliki
akurasi yang baik. Beberapa prosedur yang harus dilakukan memiliki beberapa
tahapan yaitu:
Perencanaan
- Menetapkan waktu,
sasaran dan jumlah peserta didik yang akan mendapatkan layanan asesmen.
- Menyiapkan lembar asesmen
DCM sesuai jumlah peserta didik.
- Menyiapkan lembar
jawaban DCM.
- Menyiapkan ruang
dengan situasi tenang, pencahayaan baik, kursi yang nyaman.
Pelaksanaan
- Memberikan verbal setting sebelum mulai (menjelaskan tujuan,
manfaat, dan kerahasiaan).
- Meminta individu
menyiapkan alat tulis.
- Membagi lembar asesmen
dan lembar jawaban DCM.
- Memberi instruksi cara
pengerjaan DCM.
- Menginformasikan bahwa
pengerjaan DCM tidak memiliki batas waktu.
- Melakukan pemeriksaan
ketepatan peserta didik dalam cara mengisi DCM.
- Mengumpulkan hasil
pengisian DCM.
Pengolahan Hasil
- Konselor melakukan
pengolahan hasil DCM dengan melakukan penghitungan secara kuantitatif
menggunakan format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah ditetapkan.
- Berdasarkan hasil
pengolahan secara kuantitatif, konselor melakukan analisis kualitatif.
- Pengolahan hasil DCM
harus dilakukan paling lambat satu minggu setelah pengisian, mengingat
permasalahan individu bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan.
- Langkah Pengolahan dan
Analisis
Untuk mendapat gambaran
peta masalah dan intensitas masalah peserta di didik secara individual maupun
kelompok, guru pembimbing harus melaukan proses pengolahan dan analisis hasil
pengisian DCM. Pengolahan dan analisis hasil dilakukan secara kuantitatif
maupun kualitatif. Berikut langkah pengolahan:
- Pengolahan dan
analisis data kuantitatif
- Pengolahan dan
analisis data kualitatif
- Pada saat melakukan
analisis data kualitatif, konselor perlu menelaah setiap butir pernyataan yang
dipilih peserta didik untuk setiap bidang masalah.
- Konselor
mengelompokkan dan menuliskan setiap butir masalah yang dipilih peserta didik
sesuai dengan sebelas bidang masalah.
- Buat deskripsi masalah
untuk setiap bidang dengan menarik kesimpulan umum dari seluruh butir masalah
yang dipilih pada bidang tersebut. Berarti konselor menghasilkan kesimpulan 11
bidang masalah.
Konselor membuat deskripsi masalah keseluruhan yang dirasakan peserta didik dengan membuat analisis dinamika hubungan diantara bidang masalah yang memiliki persentase paling dominan atau yang memiliki klasifikasi kurang dan kurang sekali.
DCM ( Daftar Cek Masalah )
Daftar Cek Masalah (DCM)
Pengertian Daftar Cek Masalah (DCM)
Daftar Cek Masalah
merupakan seperangkat daftar pertanyaan kemungkinan masalah yang disusun untuk
merangsang atau memancing pengutaraan masalah, yang pernah atau sedang dialami
oleh seorang individu. Daftar cek masalah (DCM) dikembangkan oleh Ross L.
Mooney berisi 330 butir pernyataan masalah yang terbagi dalam 11 bidang
masalah, dimana setiap bidang masalah berisi 30 butir pernyataan masalah dan
ditambah satu bidang masalah lain-lain yang berisi 3 (tiga) butir pertanyaan
terbuka.
Bidang-bidang yang ada
pada DCM meliputi :
- Kesehatan pada
Perkembangan Fisik (Health and Physical Development) atau HPD.
- Keadaan Penghidupan
dan Keuangan (Finance, Living conditions and Employment) atau FLE
- Reaksi dan Hobi
(Social and Recreational Activies) atau SRA
- Kehidupan sosial dan
keaktifan berorganisasi (Social Psychological Relations) atau SPR
- Hubungan pribadi
(Personal Pyschological Relations) atau PPR
- Muda-mudi (Courtship,
Sex and Marriage) atau CSM
- Kehidupan Keluarga
(Home and Family) atau HF
- Agama dan Moral
(Morals and Religions) atau MR
- Penyesuaian terhadap
Sekolah (Adjusment to College Work) atau ACW
- Masa depan dan
Cita-cita pendidikan/jabatan (The Future Vocational and Educational) atau FVE
- Penyesuaian terhadap
Kurikulum (Curriculum and Teaching Procedures) atau CTP
Kelebihan dan Kekurangan
Kegunaan DCM dalam
proses asesmen dalam layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki kelebihan
dan kekurangan
- Pada proses
pelaksanaan bersifat efisien karena pelaksaan DCM dapat dilakukan secara
klasikal, sehingga guru pembimbing dalam waktu singkat dapat memperoleh data
yang banyak
- Pada akurasi data yang
diperoleh melalui DCM memiliki validaritas dan reliabitas tinggi mengingat
peserta didik yang mengisi dapat langsung melakukan pengecekan sendiri
kesesuaian masalah yang dirasakan atau dialami, selain itu karena penyediaan
butir permasalahan cukup banyak, maka memberi peluang data masalah yang
diungkapkan melalui DCM bersifat teliti, mendalam dan meluas.
- Dari segi fungsinya,
penggunaan DCM memudahkan peserta didik mengemukakan masalah, mengingat
penyediaan butir permasalahan yang memudahkan peserta didik untuk mengenali
permasalahan yang sedang atau pernah dialaminya.
- Sistemasi jenis masalah
yang dikelompokan dalam berbagai bidang mempermudah guru pembimbing untuk
melakukan analisis dan sintesa data serta merumuskan kesimpulan masalah yang
dialami peserta didik.
- Penggunaan DCM
memiliki banyak manfaat antara lain konselor lebih mengenal peserta didiknya
yang membutuhkan bantuan segera, konselor memiliki peta masalah individu maupun
kelompok, hasil DCM dapat digunakan sebagai landasan penetapan layanan
bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik
dan yang lebih penting lagi peserta didik dapat memahami masalah yang dialami
dan memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak.
- Membutuhkan waktu yang
banyak untuk pengolahan hasil, sebagai konsekuensi dari banyaknya jumlah bidang
masalah dan jumlah butir pernyataan masalah yang tersedia.
- Data yang diungkapkan
melalui DCM masih bersifat umum berbentuk peta masalah dan banyaknya masalah
yang dialami pada setiap bidang, sehingga untuk mendalami pemahaman terhadap
masalah peserta didik, guru pembimbing perlu mengkombinasi dengan metode
asesmen lain seperti wawancara.
Peran dan Fungsi Konselor
Pada proses asesmen
menggunakan DCM, konselor memiliki peranan dan fungsi sebagai:
- Perencana, yaitu mulai
dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapkan peserta didik sebagai
asesmen, menyediakan angket DCM dan lembar jawaban sesuai jumlah peserta didik
sasaran dan membuat satuan layanan asesmen DCM.
- Pelaksanaan, yaitu
memberikan verbal setting menjelaskan
tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data, memandu peserta didik dalam cara
mengerjakan sehingga dapat dipastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan
benar.
- Melakukan pengolahan
data mulai dari membuat tabulasi, menghitung,merangking dan mengklasifikasi
persentase, membuat grafik persentase, membuat deskripsi analisis kualitatif
hasil DCM.
- Melakukan tindak
lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan
konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Macam/Jenis Angket DCM
Daftar cek masalah
yang selama ini digunakan oleh konselor di sekolah-sekolah, hanya memiliki satu
macam/jenis saja, yaitu hasil adaptasi yang dikembangkan berdasarkan DCM yang
dibuat oleh Ross L. Money.
Langkah Penyusunan
Mengingat daftar cek
masalah sudah tersedia, maka konselor dalam konteks ini tidak melakukan
penyusunan sendiri, tetapi lebih memiliki posisi sebagai pengguna. Apabila
konselor berkeinginan mengembangkan sendiri tentu saja tetap terbuka peluang
untuk itu, bisa saja melakukan adaptasi ulang terhadap DCM yang ada dengan
mencobakannya pada polulasi atau sampel peserta didik yang berbeda tingkat
pendidikan dan berbeda wilayah administratif.
Langkah Pengadministrasian
Pada penggunaan
asesmen DCM, konselor perlu memahami prosedur pengadministrasian yang benar,
sehingga proses pelaksanaan berjalan baik danhasil data yang diperoleh memiliki
akurasi yang baik. Beberapa prosedur yang harus dilakukan memiliki beberapa
tahapan yaitu:
Perencanaan
- Menetapkan waktu,
sasaran dan jumlah peserta didik yang akan mendapatkan layanan asesmen.
- Menyiapkan lembar asesmen
DCM sesuai jumlah peserta didik.
- Menyiapkan lembar
jawaban DCM.
- Menyiapkan ruang
dengan situasi tenang, pencahayaan baik, kursi yang nyaman.
Pelaksanaan
- Memberikan verbal setting sebelum mulai (menjelaskan tujuan,
manfaat, dan kerahasiaan).
- Meminta individu
menyiapkan alat tulis.
- Membagi lembar asesmen
dan lembar jawaban DCM.
- Memberi instruksi cara
pengerjaan DCM.
- Menginformasikan bahwa
pengerjaan DCM tidak memiliki batas waktu.
- Melakukan pemeriksaan
ketepatan peserta didik dalam cara mengisi DCM.
- Mengumpulkan hasil
pengisian DCM.
Pengolahan Hasil
- Konselor melakukan
pengolahan hasil DCM dengan melakukan penghitungan secara kuantitatif
menggunakan format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah ditetapkan.
- Berdasarkan hasil
pengolahan secara kuantitatif, konselor melakukan analisis kualitatif.
- Pengolahan hasil DCM
harus dilakukan paling lambat satu minggu setelah pengisian, mengingat
permasalahan individu bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan.
- Langkah Pengolahan dan
Analisis
Untuk mendapat gambaran
peta masalah dan intensitas masalah peserta di didik secara individual maupun
kelompok, guru pembimbing harus melaukan proses pengolahan dan analisis hasil
pengisian DCM. Pengolahan dan analisis hasil dilakukan secara kuantitatif
maupun kualitatif. Berikut langkah pengolahan:
- Pengolahan dan
analisis data kuantitatif
- Pengolahan dan
analisis data kualitatif
- Pada saat melakukan
analisis data kualitatif, konselor perlu menelaah setiap butir pernyataan yang
dipilih peserta didik untuk setiap bidang masalah.
- Konselor
mengelompokkan dan menuliskan setiap butir masalah yang dipilih peserta didik
sesuai dengan sebelas bidang masalah.
- Buat deskripsi masalah
untuk setiap bidang dengan menarik kesimpulan umum dari seluruh butir masalah
yang dipilih pada bidang tersebut. Berarti konselor menghasilkan kesimpulan 11
bidang masalah.
Konselor membuat
deskripsi masalah keseluruhan yang dirasakan peserta didik dengan membuat
analisis dinamika hubungan diantara bidang masalah yang memiliki persentase
paling dominan atau yang memiliki klasifikasi kurang dan kurang sekali.
Konselor membuat deskripsi masalah keseluruhan yang dirasakan peserta didik dengan membuat analisis dinamika hubungan diantara bidang masalah yang memiliki persentase paling dominan atau yang memiliki klasifikasi kurang dan kurang sekali.