Brosur BK UAD

Prodi BK UAD adalah salah satu prodi unggulan yang ada di UAD. Adapun sejarah singkat dari BK UAD Sejarah Singkat Program Studi Bimbingan dan Konseling telah berdiri sejak 1984. Sehingga praktis telah berusia lebih dari 30 tahun. Berdiri Program Bimbingan dan Konseling di Universitas Ahmad Dahlan ini terbukti dengan Surat Keputusan Meteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomer: 0139/0/1984 tanggal 9 Maret 1984. Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan mendapat peringkat Akreditasi A tiga kali berturutturut dengan SK Terakhir Nomer:1838/SK/Akred/S/V1/2017. Adapun visi dan misi nya sebagai berikut.

Visi

Pada tahun 2020 menjadi program studi yang unggul penghasil pendidik yang bertaraf nasional berwawasan global dan inovaif dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berbasis riset dan teknologi terkini, serta nilai keIslaman.

Misi

Menyelenggarakan program akademik dan profesional bidang Bimbingan dan Konseling berbasis nilai kelslaman. • Menyelenggarakan riset dalam bidang Ilmu Pendidikan utamanya Bimbingan dan Konseling berbasis nilai kelslaman • Menyelenggarakan program layanan pengabdian pada masyarakat dalam bidang Bimbingan dan Konseling berbasis nilai kelslaman • Menialin keriasama di tingkat internasional khususnya dalam bidang Bimbingan dan Konseling

Adapun prestasi yang di raih mahasiswa mahasiswi prodi BK UAD di antaranya :

sepuluh mahasiswa BK UAD sukses menyabet Juara 2 pada Lomba Bimbingan Kelompok Nasional pada 8 Maret, juara 1 lomba media IT BK di Surabaya pada 5 Mei.

Daftar Cek Masalah (DCM)

Pengertian Daftar Cek Masalah (DCM)

Daftar Cek Masalah merupakan seperangkat daftar pertanyaan kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang atau memancing pengutaraan masalah, yang pernah atau sedang dialami oleh seorang individu. Daftar cek masalah (DCM) dikembangkan oleh Ross L. Mooney berisi 330 butir pernyataan masalah yang terbagi dalam 11 bidang masalah, dimana setiap bidang masalah berisi 30 butir pernyataan masalah dan ditambah satu bidang masalah lain-lain yang berisi 3 (tiga) butir pertanyaan terbuka.

Bidang-bidang yang ada pada DCM meliputi :

  1. Kesehatan pada Perkembangan Fisik (Health and Physical Development) atau HPD.
  2. Keadaan Penghidupan dan Keuangan (Finance, Living conditions and Employment) atau FLE
  3. Reaksi dan Hobi (Social and Recreational Activies) atau SRA
  4. Kehidupan sosial dan keaktifan berorganisasi (Social Psychological Relations) atau SPR
  5. Hubungan pribadi (Personal Pyschological Relations) atau PPR
  6. Muda-mudi (Courtship, Sex and Marriage) atau CSM
  7. Kehidupan Keluarga (Home and Family) atau HF
  8. Agama dan Moral (Morals and Religions) atau MR
  9. Penyesuaian terhadap Sekolah (Adjusment to College Work) atau ACW
  10. Masa depan dan Cita-cita pendidikan/jabatan (The Future Vocational and Educational) atau FVE
  11. Penyesuaian terhadap Kurikulum (Curriculum and Teaching Procedures) atau CTP

Kelebihan dan Kekurangan

Kegunaan DCM dalam proses asesmen dalam layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki kelebihan dan kekurangan

  1. Pada proses pelaksanaan bersifat efisien karena pelaksaan DCM dapat dilakukan secara klasikal, sehingga guru pembimbing dalam waktu singkat dapat memperoleh data yang banyak
  2. Pada akurasi data yang diperoleh melalui DCM memiliki validaritas dan reliabitas tinggi mengingat peserta didik yang mengisi dapat langsung melakukan pengecekan sendiri kesesuaian masalah yang dirasakan atau dialami, selain itu karena penyediaan butir permasalahan cukup banyak, maka memberi peluang data masalah yang diungkapkan melalui DCM bersifat teliti, mendalam dan meluas.
  3. Dari segi fungsinya, penggunaan DCM memudahkan peserta didik mengemukakan masalah, mengingat penyediaan butir permasalahan yang memudahkan peserta didik untuk mengenali permasalahan yang sedang atau pernah dialaminya.
  4. Sistemasi jenis masalah yang dikelompokan dalam berbagai bidang mempermudah guru pembimbing untuk melakukan analisis dan sintesa data serta merumuskan kesimpulan masalah yang dialami peserta didik.
  5. Penggunaan DCM memiliki banyak manfaat antara lain konselor lebih mengenal peserta didiknya yang membutuhkan bantuan segera, konselor memiliki peta masalah individu maupun kelompok, hasil DCM dapat digunakan sebagai landasan penetapan layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan yang lebih penting lagi peserta didik dapat memahami masalah yang dialami dan memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak.
  6. Membutuhkan waktu yang banyak untuk pengolahan hasil, sebagai konsekuensi dari banyaknya jumlah bidang masalah dan jumlah butir pernyataan masalah yang tersedia.
  7. Data yang diungkapkan melalui DCM masih bersifat umum berbentuk peta masalah dan banyaknya masalah yang dialami pada setiap bidang, sehingga untuk mendalami pemahaman terhadap masalah peserta didik, guru pembimbing perlu mengkombinasi dengan metode asesmen lain seperti wawancara.

Peran dan Fungsi Konselor

Pada proses asesmen menggunakan DCM, konselor memiliki peranan dan fungsi sebagai:

  1. Perencana, yaitu mulai dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapkan peserta didik sebagai asesmen, menyediakan angket DCM dan lembar jawaban sesuai jumlah peserta didik sasaran dan membuat satuan layanan asesmen DCM.
  2. Pelaksanaan, yaitu memberikan verbal setting menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data, memandu peserta didik dalam cara mengerjakan sehingga dapat dipastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan benar.
  3. Melakukan pengolahan data mulai dari membuat tabulasi, menghitung,merangking dan mengklasifikasi persentase, membuat grafik persentase, membuat deskripsi analisis kualitatif hasil DCM.
  4. Melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Macam/Jenis Angket DCM

Daftar cek masalah yang selama ini digunakan oleh konselor di sekolah-sekolah, hanya memiliki satu macam/jenis saja, yaitu hasil adaptasi yang dikembangkan berdasarkan DCM yang dibuat oleh Ross L. Money.

Langkah Penyusunan

Mengingat daftar cek masalah sudah tersedia, maka konselor dalam konteks ini tidak melakukan penyusunan sendiri, tetapi lebih memiliki posisi sebagai pengguna. Apabila konselor berkeinginan mengembangkan sendiri tentu saja tetap terbuka peluang untuk itu, bisa saja melakukan adaptasi ulang terhadap DCM yang ada dengan mencobakannya pada polulasi atau sampel peserta didik yang berbeda tingkat pendidikan dan berbeda wilayah administratif.

Langkah Pengadministrasian

Pada penggunaan asesmen DCM, konselor perlu memahami prosedur pengadministrasian yang benar, sehingga proses pelaksanaan berjalan baik danhasil data yang diperoleh memiliki akurasi yang baik. Beberapa prosedur yang harus dilakukan memiliki beberapa tahapan yaitu:

Perencanaan

  1. Menetapkan waktu, sasaran dan jumlah peserta didik yang akan mendapatkan layanan asesmen.
  2. Menyiapkan lembar asesmen DCM sesuai jumlah peserta didik.
  3. Menyiapkan lembar jawaban DCM.
  4. Menyiapkan ruang dengan situasi tenang, pencahayaan baik, kursi yang nyaman.

Pelaksanaan

  1. Memberikan verbal setting sebelum mulai (menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan).
  2. Meminta individu menyiapkan alat tulis.
  3. Membagi lembar asesmen dan lembar jawaban DCM.
  4. Memberi instruksi cara pengerjaan DCM.
  5. Menginformasikan bahwa pengerjaan DCM tidak memiliki batas waktu.
  6. Melakukan pemeriksaan ketepatan peserta didik dalam cara mengisi DCM.
  7. Mengumpulkan hasil pengisian DCM.

Pengolahan Hasil

  1. Konselor melakukan pengolahan hasil DCM dengan melakukan penghitungan secara kuantitatif menggunakan format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah ditetapkan.
  2. Berdasarkan hasil pengolahan secara kuantitatif, konselor melakukan analisis kualitatif.
  3. Pengolahan hasil DCM harus dilakukan paling lambat satu minggu setelah pengisian, mengingat permasalahan individu bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan.
  1. Langkah Pengolahan dan Analisis

Untuk mendapat gambaran peta masalah dan intensitas masalah peserta di didik secara individual maupun kelompok, guru pembimbing harus melaukan proses pengolahan dan analisis hasil pengisian DCM. Pengolahan dan analisis hasil dilakukan secara kuantitatif maupun kualitatif. Berikut langkah pengolahan:

  1. Pengolahan dan analisis data kuantitatif
  2. Pengolahan dan analisis data kualitatif
  3. Pada saat melakukan analisis data kualitatif, konselor perlu menelaah setiap butir pernyataan yang dipilih peserta didik untuk setiap bidang masalah.
  4. Konselor mengelompokkan dan menuliskan setiap butir masalah yang dipilih peserta didik sesuai dengan sebelas bidang masalah.
  5. Buat deskripsi masalah untuk setiap bidang dengan menarik kesimpulan umum dari seluruh butir masalah yang dipilih pada bidang tersebut. Berarti konselor menghasilkan kesimpulan 11 bidang masalah.

Konselor membuat deskripsi masalah keseluruhan yang dirasakan peserta didik dengan membuat analisis dinamika hubungan diantara bidang masalah yang memiliki persentase paling dominan atau yang memiliki klasifikasi kurang dan kurang sekali.

DCM ( Daftar Cek Masalah )

Daftar Cek Masalah (DCM)

Pengertian Daftar Cek Masalah (DCM)

Daftar Cek Masalah merupakan seperangkat daftar pertanyaan kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang atau memancing pengutaraan masalah, yang pernah atau sedang dialami oleh seorang individu. Daftar cek masalah (DCM) dikembangkan oleh Ross L. Mooney berisi 330 butir pernyataan masalah yang terbagi dalam 11 bidang masalah, dimana setiap bidang masalah berisi 30 butir pernyataan masalah dan ditambah satu bidang masalah lain-lain yang berisi 3 (tiga) butir pertanyaan terbuka.

Bidang-bidang yang ada pada DCM meliputi :

  1. Kesehatan pada Perkembangan Fisik (Health and Physical Development) atau HPD.
  2. Keadaan Penghidupan dan Keuangan (Finance, Living conditions and Employment) atau FLE
  3. Reaksi dan Hobi (Social and Recreational Activies) atau SRA
  4. Kehidupan sosial dan keaktifan berorganisasi (Social Psychological Relations) atau SPR
  5. Hubungan pribadi (Personal Pyschological Relations) atau PPR
  6. Muda-mudi (Courtship, Sex and Marriage) atau CSM
  7. Kehidupan Keluarga (Home and Family) atau HF
  8. Agama dan Moral (Morals and Religions) atau MR
  9. Penyesuaian terhadap Sekolah (Adjusment to College Work) atau ACW
  10. Masa depan dan Cita-cita pendidikan/jabatan (The Future Vocational and Educational) atau FVE
  11. Penyesuaian terhadap Kurikulum (Curriculum and Teaching Procedures) atau CTP

Kelebihan dan Kekurangan

Kegunaan DCM dalam proses asesmen dalam layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki kelebihan dan kekurangan

  1. Pada proses pelaksanaan bersifat efisien karena pelaksaan DCM dapat dilakukan secara klasikal, sehingga guru pembimbing dalam waktu singkat dapat memperoleh data yang banyak
  2. Pada akurasi data yang diperoleh melalui DCM memiliki validaritas dan reliabitas tinggi mengingat peserta didik yang mengisi dapat langsung melakukan pengecekan sendiri kesesuaian masalah yang dirasakan atau dialami, selain itu karena penyediaan butir permasalahan cukup banyak, maka memberi peluang data masalah yang diungkapkan melalui DCM bersifat teliti, mendalam dan meluas.
  3. Dari segi fungsinya, penggunaan DCM memudahkan peserta didik mengemukakan masalah, mengingat penyediaan butir permasalahan yang memudahkan peserta didik untuk mengenali permasalahan yang sedang atau pernah dialaminya.
  4. Sistemasi jenis masalah yang dikelompokan dalam berbagai bidang mempermudah guru pembimbing untuk melakukan analisis dan sintesa data serta merumuskan kesimpulan masalah yang dialami peserta didik.
  5. Penggunaan DCM memiliki banyak manfaat antara lain konselor lebih mengenal peserta didiknya yang membutuhkan bantuan segera, konselor memiliki peta masalah individu maupun kelompok, hasil DCM dapat digunakan sebagai landasan penetapan layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan yang lebih penting lagi peserta didik dapat memahami masalah yang dialami dan memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak.
  6. Membutuhkan waktu yang banyak untuk pengolahan hasil, sebagai konsekuensi dari banyaknya jumlah bidang masalah dan jumlah butir pernyataan masalah yang tersedia.
  7. Data yang diungkapkan melalui DCM masih bersifat umum berbentuk peta masalah dan banyaknya masalah yang dialami pada setiap bidang, sehingga untuk mendalami pemahaman terhadap masalah peserta didik, guru pembimbing perlu mengkombinasi dengan metode asesmen lain seperti wawancara.

Peran dan Fungsi Konselor

Pada proses asesmen menggunakan DCM, konselor memiliki peranan dan fungsi sebagai:

  1. Perencana, yaitu mulai dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapkan peserta didik sebagai asesmen, menyediakan angket DCM dan lembar jawaban sesuai jumlah peserta didik sasaran dan membuat satuan layanan asesmen DCM.
  2. Pelaksanaan, yaitu memberikan verbal setting menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data, memandu peserta didik dalam cara mengerjakan sehingga dapat dipastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan benar.
  3. Melakukan pengolahan data mulai dari membuat tabulasi, menghitung,merangking dan mengklasifikasi persentase, membuat grafik persentase, membuat deskripsi analisis kualitatif hasil DCM.
  4. Melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Macam/Jenis Angket DCM

Daftar cek masalah yang selama ini digunakan oleh konselor di sekolah-sekolah, hanya memiliki satu macam/jenis saja, yaitu hasil adaptasi yang dikembangkan berdasarkan DCM yang dibuat oleh Ross L. Money.

Langkah Penyusunan

Mengingat daftar cek masalah sudah tersedia, maka konselor dalam konteks ini tidak melakukan penyusunan sendiri, tetapi lebih memiliki posisi sebagai pengguna. Apabila konselor berkeinginan mengembangkan sendiri tentu saja tetap terbuka peluang untuk itu, bisa saja melakukan adaptasi ulang terhadap DCM yang ada dengan mencobakannya pada polulasi atau sampel peserta didik yang berbeda tingkat pendidikan dan berbeda wilayah administratif.

Langkah Pengadministrasian

Pada penggunaan asesmen DCM, konselor perlu memahami prosedur pengadministrasian yang benar, sehingga proses pelaksanaan berjalan baik danhasil data yang diperoleh memiliki akurasi yang baik. Beberapa prosedur yang harus dilakukan memiliki beberapa tahapan yaitu:

Perencanaan

  1. Menetapkan waktu, sasaran dan jumlah peserta didik yang akan mendapatkan layanan asesmen.
  2. Menyiapkan lembar asesmen DCM sesuai jumlah peserta didik.
  3. Menyiapkan lembar jawaban DCM.
  4. Menyiapkan ruang dengan situasi tenang, pencahayaan baik, kursi yang nyaman.

Pelaksanaan

  1. Memberikan verbal setting sebelum mulai (menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan).
  2. Meminta individu menyiapkan alat tulis.
  3. Membagi lembar asesmen dan lembar jawaban DCM.
  4. Memberi instruksi cara pengerjaan DCM.
  5. Menginformasikan bahwa pengerjaan DCM tidak memiliki batas waktu.
  6. Melakukan pemeriksaan ketepatan peserta didik dalam cara mengisi DCM.
  7. Mengumpulkan hasil pengisian DCM.

Pengolahan Hasil

  1. Konselor melakukan pengolahan hasil DCM dengan melakukan penghitungan secara kuantitatif menggunakan format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah ditetapkan.
  2. Berdasarkan hasil pengolahan secara kuantitatif, konselor melakukan analisis kualitatif.
  3. Pengolahan hasil DCM harus dilakukan paling lambat satu minggu setelah pengisian, mengingat permasalahan individu bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan.
  1. Langkah Pengolahan dan Analisis

Untuk mendapat gambaran peta masalah dan intensitas masalah peserta di didik secara individual maupun kelompok, guru pembimbing harus melaukan proses pengolahan dan analisis hasil pengisian DCM. Pengolahan dan analisis hasil dilakukan secara kuantitatif maupun kualitatif. Berikut langkah pengolahan:

  1. Pengolahan dan analisis data kuantitatif
  2. Pengolahan dan analisis data kualitatif
  3. Pada saat melakukan analisis data kualitatif, konselor perlu menelaah setiap butir pernyataan yang dipilih peserta didik untuk setiap bidang masalah.
  4. Konselor mengelompokkan dan menuliskan setiap butir masalah yang dipilih peserta didik sesuai dengan sebelas bidang masalah.
  5. Buat deskripsi masalah untuk setiap bidang dengan menarik kesimpulan umum dari seluruh butir masalah yang dipilih pada bidang tersebut. Berarti konselor menghasilkan kesimpulan 11 bidang masalah.

Konselor membuat deskripsi masalah keseluruhan yang dirasakan peserta didik dengan membuat analisis dinamika hubungan diantara bidang masalah yang memiliki persentase paling dominan atau yang memiliki klasifikasi kurang dan kurang sekali.

Konselor membuat deskripsi masalah keseluruhan yang dirasakan peserta didik dengan membuat analisis dinamika hubungan diantara bidang masalah yang memiliki persentase paling dominan atau yang memiliki klasifikasi kurang dan kurang sekali.

KONSELOR ISLAMI DI ERA MILENIAL

Konselor Islami

Konselor Islam, dalam tugasnya membantu klien menyelesaikan masalah kehidupannya, haruslah memperhatikan nilai-nilai dan moralitas Islam. Apalagi yang ditangani adalah membantu mengatasi masalah kehidupan yang dialami oleh klienatau konseli, maka sudah  sewajarnyalah konselor harus menjadi teladan yang baik, agar klien merasa termotivasi dalam menyelesaikan masalah kehidupannya. Sebagai seorang teladan, seharusnyalah konselor Islami menjadi rujukan bagi klien dalam menjalani hidupnya, oleh karena itu, sebagai suri teladan maka

sudah tentu konselor adalah seorang yang menjadi rujukan dalam perilaku kehidupannya sehari-hari, kehidupan konselor menjadi barometer bagi konseli. Kepribadian konselor dapat menentukan bentuk hubungan antara konselor dan konseli, bentuk kuwalitas penanganan masalah, dan pemilihan alternative pemecahan masalah.

Hasil gambar untuk konselor islami

 Tugas konselor pada dasarnya adalah usaha memberikan bimbingan kepada konseli dengan maksud agar konseli mampu mengatasi permasalahan dirinya. Tugas ini berlaku bagi siapa saja yang bertindak sebagai konselor. Sekalipun sudah memiliki kode etik profesi yang menjadi landasan acuan perlindungan konseli,  bagi konselor muslim tidak ada salahnya apabila dalam dirinya juga menambah sifat-sifat atau karakter konselor yang dipandangnya perlu bagi aktivitas konseling. Yang terpenting bahwa dalam upaya konseling tersebut harus memenuhi kaidah bahwa pemberian bantuan tidak didasarkan pada pekerjaannya.

 Ciri-ciri Kepribadian Konselor Islami

Sebagai pedoman kepribadian konselor yang Islami (konselor muslim) sebagai

berikut:

  1. Seorang konselor harus menjadi cermin bagi konseli
  2. Kemampuan bersimpati dan berempati yang melampaui dimensi duniawi
  3. Menjadikan konseling sebagai awal keinginan bertaubat yang melegakan
  4. Sikap menerima penghormatan: sopan santun, menghargai eksistensi
  5. Keberhasilan konseling aadalah suatu yang baru dikehendaki
  6. Motivasi konselor: konseling suatu bentuk ibadah
  7. Konselor harus menepati moralitas Islam, Kode etik, sumpah jabatan dan janji
  8. Memiliki pikiran positif.

My First Mudik

Tradisi mudik lebaran merupakan hal yang lumrah bagi para anak rantauan. Bermacam macam cara orang melakukan mudiknya ada yang menggunakan transportasi umum baik itu bis, kereta api, pesawat terbang dan kapal laut atau pun kendaraan pribadi contoh mobil pribadi, motor, dan lain sebagainya. Transportasi yang saya gunakan yaitu motor, kenapa saya menggunakann motor karena waktu tempuh bisa lebih cepat di bandingkan dengan transportasi umum, euporianya juga lebih mengesankan di bandingkan menggunakan transportasi umum dan kita bebas ingin berhenti dimana saja dan istirahat dimana pun dan kapan pun kita mau. Kebetulan di mudik kemaren saya tidak beristirahat karna saya ingin cepat cepat sampai ke rumah, saya berangkat dari jogja pukul 05.00 WIB dengan keadaan bensin full dan saya mengisi lagi di daerah Lumbir Banyumas dan saya sampai di rumah pada pukul 09.30 WIB. Kenapa mudik kali ini sangat mengesankan bagi saya karena ini adalah mudik pertama saya Alhamdulillah saya di jalan tidak ada kendala apapun aman dan lancar selamat sampai tujuan.

TRADISI LEBARAN

Tradisi lebaran adalah sebuah tradisi yang umum di lakukan kaum muslimin dunia khususnya Indonesia terutama di daerah saya, di daerah saya malem 1 syawal nya sangat ramai dengan gema takbir di setiap musola dan mesjid mesjid. Dan keesokan harinya orang orang sudah berbondong bondong pergi ke mesjid atau lapangan untuk melaksanakan solat Ied berjamaah. Sehabis solat Ied jika di daerah saya orang orang pergi ke makam untuk mendo’akan sanak saudara yang sudah meninggalkan terlebih dahulu, dan sehabis dari makam baru lah mengunjungi saudara yang masih hidup yang jauh maupun yang dekat, dan malam nya ada acara halal bihalal yang di saksikan dan di ikuti oleh masyarakat karna acara itu bersifat umum jadi siap saja boleh mengikuti. Kemudian di daerah saya yang sudah rutin hampir tiap taun nya itu setiap bulan syawal pasti banyak acara maupun itu nikahan ataupun sunatan.

Download disini

Tradisi Lebaran

Tradisi lebaran adalah sebuah tradisi yang umum di lakukan kaum muslimin dunia khususnya Indonesia terutama di daerah saya, di daerah saya malem 1 syawal nya sangat ramai dengan gema takbir di setiap musola dan mesjid mesjid. Dan keesokan harinya orang orang sudah berbondong bondong pergi ke mesjid atau lapangan untuk melaksanakan solat Ied berjamaah. Sehabis solat Ied jika di daerah saya orang orang pergi ke makam untuk mendo’akan sanak saudara yang sudah meninggalkan terlebih dahulu, dan sehabis dari makam baru lah mengunjungi saudara yang masih hidup yang jauh maupun yang dekat, dan malam nya ada acara halal bihalal yang di saksikan dan di ikuti oleh masyarakat karna acara itu bersifat umum jadi siap saja boleh mengikuti. Kemudian di daerah saya yang sudah rutin hampir tiap taun nya itu setiap bulan syawal pasti banyak acara maupun itu nikahan ataupun sunatan.

Peran guru di revolusi industri 4.0

pada era revolusi Industri 4.0 peran guru tak tergantikan. Namun diperlukan guru profesional yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang cepat. “Guru harus bisa memanfaatkan itu untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar pada setiap satuan pendidikan. Ini agar dapat mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dengan kompetensi global”. Peran guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, “orang tua” di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi. Meskipun profesi guru tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0, namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus meng-upgrade diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Untuk menyiapkan para guru menghadapi perkembangan zaman yang terus berkembang, setidaknya ada 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pada era revolusi industri 4.0 ini. 4 Kompetensi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Guru Harus Mampu Melakukan Penilaian Secara Komprehensif
    Penilaian tidak hanya bertumpu pada aspek kognitif atau pengetahuan saja. Namun penilaian yang dilakukan oleh guru di era sekarang harus mampu mengakomodasi keunikan dan keunggulan para peserta didik, sehingga para peserta didik sudah mengetahui segala potensi dirinya sejak di bangku sekolah. Guru masa kini harus mampu merancang instrumen penilaian yang menggali semua aspek yang menyangkut siswa, baik pengetahuan, keterampilan dan karakter. Semua aspek tersebut harus tergali, terasah dan terevaluasi selama proses pembelajaran di kelas.
  2. Guru Harus Memiliki Kompetensi Abad 21
    Untuk mewujudkan siswa yang memiliki keterampilan abad 21 maka gurunya pun harus memahami dan memiliki kompetensi tersebut. Ada 3 aspek penting dalam kompetensi abad 21 ini, yaitu: Karakter, karakter yang dimaksud dalam kompetensi abad 21 terdiri dari karakter yang bersifat akhlak (jujur, amanah, sopan santun dll) dan karakter kinerja (kerja keras, tanggung jawab, disiplin, gigih dll).
  3. Guru Harus Mampu Menyajikan Modul Sesuai Passion Siswa
    Di era perkembangan teknologi yang semakin berkembang, modul yang digunakan dalam pembelajaran tidak selalu menggunakan modul konvensional seperti modul berbasis paper. Guru masa kini harus mampu menyajikan materi pelajaran dalam bentuk modul yang bisa diakses secara online oleh para peserta didik. Sudah banyak fitur yang bisa dijadikan oleh guru sebagai sarana untuk mengembangkan modul berbasis online
  4. Guru Harus Mampu Melakukan Autentic Learning yang Inovatif.
    Sekolah bukan tempat isolasi para peserta didik dari dunia luar, justru sekolah adalah jendela untuk membuka dunia sehingga para siswa mengenali dunia. Untuk menjadikan sekolah sebagai jendela dunia bagi para peserta didik, guru harus memiliki kompetensi penyajian pembelajaran yang inovatif.Pembelajaran yang disajikan harus mengarah pada pembelajaran yang joyfull and inovatif learning, yakni pembelajaran yang memadukan hands on and mind on, problem based leraning dan project based learning.

Tips Badan Cepat Gemuk

Untuk mendapatkan tubuh supaya cepat gemuk ada beberapa tahapan

  • makan lah makanan yang berlemak secara terus menerus
  • perbanyak makan karbohidrat baik pagi maupun sebelum tidur
  • perbanyak makan malam
  • usahakan makan malam lebih dari jam tujuh malam
  • sehabis makan usahakan langsung tiduran karna tiduran akan membuat makanan tersendat di tubuh jadi secara tidak langsung lemak akan mengendap di tubuh lama ke lamaan badan yang tadinya kecil akan menjadi gemuk.
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai